INDONESIA PROMOSIKAN POTENSI WISATA MICE DALAM PAMERAN TERBESAR DI AS

2020-11-09 16:42:19

Indonesia mempromosikan potensi wisata MICE Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) yang ada di Tanah Air dalam pameran bertema MICE terbesar di Amerika Serikat (AS) yakni IMEX 2016 untuk menjaring wisatawan mancanegara (wisman) pada segmen bisnis.

IMEX 2016 yang merupakan event pameran MICE "business to business" terbesar di benua Amerika akan dilaksanakan pada 18-20 Oktober 2016 di Las Vegas, Amerika Serikat.

Kementerian Pariwisata RI akan menggandeng 9 industri pariwisata untuk mengikuti IMEX 2016. Asisten Deputi Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Nia Niscaya mengatakan IMEX 2016 akan menjadi ajang yang potensial bagi Indonesia untuk mempromosikan wisata MICE Indonesia bagi segmen pasar di AS.

Apalagi IMEX merupakan trade show industri MICE terbesar di AS yang juga masuk dalam daftar event internasional yang menarik perhatian dan kunjungan ribuan profesional dari AS dan negara-negara lain di dunia. Ajang itu potensial untuk menjaring kesempatan bisnis, memperluas jejaring, dan edukasi.

Nia mengatakan, Indonesia melalui Kemenpar akan menampilkan Paviliun Indonesia dengan berbagai daya tarik di dalamnya.

"Untuk menarik para pengunjung pameran, maka di Paviliun Indonesia akan disiapkan kuliner khas Indonesia, kopi khas Indonesia, dan berfoto dengan tim Wonderful Indonesia yang mempergunakan kostum karnaval," kata Nia.

Nia berharap melalui acara tersebut, MICE Indonesia semakin dikenal dan terpromosikan pada publik yang lebih luas tidak sekadar di Benua Amerika namun juga para peserta lain dalam ajang IMEX yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana mengatakan semakin besarnya potensi industri MICE bagi perekonomian suatu negara membuat setiap negara berlomba-lomba mendatangkan wisatawan bisnis (Business Traveler) untuk mengadakan meeting, pameran, maupun perjalanan insentif di negara tersebut, demikian halnya dengan Indonesia.

"Wisatawan yang datang untuk tujuan MICE memiliki kelebihan dibanding wisatawan biasa, yaitu mereka umumnya adalah opinion leader yang berasal dari kalangan pengusaha, profesional maupun pemerintahan, yang melakukan kegiatan pada saat low-season," katanya.

Data dari International Congress & Convention Association (ICCA), menunjukkan bahwa wisatawan MICE umumnya datang dalam jumlah besar. Selain itu tingkat pengeluaran selama berada di destinasi tuan rumah kegiatan MICE mencapai 7 kali lipat dari wisatawan biasa (Leisure Traveler).

"Wisatawan MICE juga berpotensi untuk berkonversi menjadi wisatawan leisure," katanya.

Wisatawan MICE juga memberikan kontribusi bagi naiknya citra destinasi karena wisatawan MICE pada umumnya adalah para pembuat keputusan termasuk CEO perusahaan. Dengan begitu maka kekuatan word-of-mouth dari mereka tentang destinasi akan memberi dampak yang lebih kuat dalam promosi.

Hal tersebut telah disadari oleh banyak negara di dunia yang menyebabkan persaingan antar destinasi dalam mendatangkan event MICE internasional menjadi sangat tinggi.

Kinerja Pariwisata Indonesia

Pada 2016, Kementerian Pariwisata menargetkan mampumendatangkan sebanyak 12 juta wisatawan mancanegara ke Indonesia. Untuk mencapai target tersebut,Indonesia menerapkan strategi yang signifikan terkait dengan peraturan, anggaran pemasaran dan promosi, serta pengembangan infrastruktur dan destinasi. Indonesia misalnya telah sangat proaktif dalam menarik wisman untuk datang ke Indonesia dan menjelajahi berbagai destinasi pariwisata yang bertajuk "Wonderful Indonesia".

1. Peraturan

Indonesia tercatat telah proaktif dalam menyederhanakan peraturan untuk memudahkan semua wisatawan yang ingin berkunjung ke Tanah Air. Persyaratan bebas visa kunjungan sementara untuk masuk ke Indonesia telah diberlakukan bagi 169 negara per 2 Maret 2016 melalui Peraturan Preseiden Nomor 121 tahun 2016.

Pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan peraturan baru untuk menarik lebih banyak yacht masuk ke Indonesia dengan mencabut Clearance Approval for Indonesia Territory (CAIT). Dengan demikian, diperkirakan kunjungan kapal pesiar ke Indonesia akan semakin banyak bahkan ditargetkan mencapai 5.000 kapal pesiar pada 2019 dengan pendapatan sebesar USD $ 500 juta.

Terobosan lain yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia yaitu mencabut peraturan cabotage untuk kapal pesiar di 5 pelabuhan utama di Indonesia, yaitu Belawan - Medan (Sumatera Utara), Tanjung Priok - Jakarta, Tanjung Perak - Surabaya (Jawa Timur), Benoa - Bali, Soekarno Hatta - Makassar.

Oleh karena itu, penumpang kapal pesiar dapat dengan mudah memulai keberangkatan dan mengakhiri perjalanan di pelabuhan.

2. Pemasaran dan Promosi

Tahun ini, pemerintah meningkatkan anggaran untuk pemasaran dan promosi sebesar 300% dibandingkan dengan anggaran 2015. Pemasaran dan promosi ini menekankan pada komunikasi pemasaran untuk semua saluran (online, elektronik, OOH, serta media cetak) dengan menggandeng PR agency ternama, mesin pencari internet mengenai pariwisata, media sosial, dan platform lainnya.

Selain itu, Kementerian Pariwisata bertekad terus melakukan partisipasi pada pameran pariwisata internasional, misi penjualan pada fokus pasar serta perjalanan pengenalan wisata untuk media, agen perjalanan, dan asosiasi untuk melihat, merasakan, dan menjelajahi keramahan Wonderful Indonesia.

3. Infrastruktur dan Pengembangan Destinasi

• Portofolio Produk Wisata Indonesia:

1. Budaya (60%)

2. Alam(35%)

a. Ekowisata (45%)

b. Wisata Bahari (35%)

I. Zona Pesisir (60%)

II. Zona Laut (25%)

III. Zona Bawah Laut (15%)

c. Wisata Petualangan (20%)

3. Buatan Manusia (5%)

• Pengembangan Destinasi Pariwisata Prioritas

Pada 2016, akan ada 10 destinasi prioritas yang dikembangkan, antara lain Danau Toba - Sumatera Utara, Tanjung Kelayang - Bangka Belitung, Mandalika - Nusa Tenggara Barat, Wakatobi - Sulawesi Tenggara, Pulau Morotai - Maluku Utara, Kepulauan Seribu - Jakarta,Tanjung Lesung - Banten, Borobudur - Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru - Jawa Timur, dan juga Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur.

• Peningkatan Konektivitas dan Aksesibilitas

Indonesia akan mengembangkan bandara baru di 15 kota sekunder, meningkatkan kapasitas 27 bandara dengan memperpanjang landasan pacu, merenovasi terminal penumpang di 13 bandara, serta mengembangkan marina baru.

SHARE :

KATEGORI

kemenparekraf

sektor pariwisata